Artikel 4

,00 0000 - 00:00:00 WIB
Dibaca: 1237 kali

Pengaruh Pemberian Musik Mozart Terhadap Peningkatan Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Pada Siswa Kelas III SD Negeri Medalem Sidoarjo

 

Mokhamad Farhan

Program Studi Magister Psikologi Profesi

Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

 

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian musik Mozart terhadap peningkatan prestasi belajar IPA pada siswa kelas III SD Negeri Medalem Sidoarjo. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah pretest-postest control grup design. Penelitian eksperimen ini dilakukan selama 6 minggu. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah One-Way Anava. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pemberian musik Mozart terhadap peningkatan prestasi belajar IPA pada siswa kelas III SD Negeri Medalem Sidoarjo.

Kata kunci : Musik Mozart & Peningkatan prestasi Belajar IPA

 

Pendahuluan

Setiap negara berusaha untuk semakin maju dan kuat baik secara ekonomi, sosial, politik, maupun teknologi yang erat kaitanya dengan dunia pendidikan. Negara yang sedang membangun seperti Indonesia, sangat membutuhkan tenaga ahli yang terdidik dan terampil, tekun, dan cekatan untuk mampu menghadapi persaingan di segala bidang yang ada. Salah satu usaha yang paling umum dan paling sering di tempuh adalah dengan cara belajar. Dengan usaha belajar manusia dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan untuk mencapai yang terbaik di masa depan. Dengan mencapai usaha yang terbaik, manusia dapat mengak-tualisasikan diri di lingkungan tempat ia berada. Aktualisasi diri ini dapat diwu-judkan salah satunya adalah dengan berprestasi di bidang yang ditekuninya.

Pendidikan merupakan usaha sengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan anak  untuk dapat mengaktualisasikan diri agar bermanfaat bagi kepentingan masa depannya sebagai seorang individu dan warga yang bermasyarakat. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidikan adalah faktor penting dalam kehidupan, sehingga pendidikan harus dilaksanakan sebaik-baiknya sehingga memperoleh hasil seperti yang diharapkan.

Melihat pentingnya mata pelajaran tersebut, maka usaha untuk menciptakan kondisi yang menye-nangkan di dalam proses belajar meng-ajar IPA terus dilakukan agar siswa tertarik untuk mempelajari dan mengu-asai. Oleh karena itu, penguasaan mata pelajaran IPA sangat diperlukan pada siswa yang masih dalam masa partum-buhan, yaitu siswa yang masih duduk di bangku SD.

Proses belajar-mengajar di Sekolah SDN Medalem Sidoarjo, meng-gunakan cara yang dapat dikatakan masih tradisional. Disebut masih tradi-sional karena cenderung hanya bersifat satu arah, dan terkadang bahkan bisa menghambat perkembangan kemampu-an individu. Pada saat guru memberikan penjelasan tentang materi pelajaran, sementara siswa wajib menyimak dan mencatat agar materi pelajaran tersebut dapat di ingat kembali nantinya. Sedangkan siswa akan sering melihat kearah jam dan menghitung sisa waktu yang harus dijalani dalam kondisi yang membosankan. Siswa sangat mungkin tidak dapat mengingat banyak informasi yang disampaikan gurunya. Siswa terpecah perhatiannya karena harus menyimak penjelasan guru sambal membuat catatan pada waktu yang bersamaan, Andersen (1999).

Kesulitantersebut bahkan akan lebih dialami dalam pelajaran-pelajaran yang menggunakan daya ingat. Hal ini tentu saja tidak mudah, sebab banyak siswa cenderung kurang berkonsentrasi dalam proses penerimaan informasi tentang materi pelajaran. Berdasarkan fakta yang ada pada proses belajar-mengajar tersebut,  maka sangat disa-rankan perlu cara belajar yang lebih efektif dalam suatu proses belajar-mengajar yang berlangsung antar guru dengan siswa. Dan, segala sesuatu yang ada di sekitar dapat dijadikan mediator sebagai alternatif dalam proses belajar-mengajar.

Ada suatu metode yang dikenal sebagai metode belajar kuantum. Teknik yang digunakan menurut De Porter (2004), dalam metode belajar kuantum ini adalah dengan menciptakan ruangan belajar sekondusif mungkin, antara lain dengan memasang musik latar di dalam kelas. (Metode kuantum ini tidak akan dibahas lebih lanjut dalam penelitian, namun suatu aspek yang disarankannya, yaitu dengan memasang musik latar di dalam kelas, akan menjadi sumber inspirasi bagi terlaksananya penelitian ini.)

Menurut Dra. Siti Mukmini (2003), seorang dosen psikologi dalam penelitiannya yang mempergunakan musik klasik sebagai pendekatan dalam sistem belajar-mengajar, bahwa musik sangat penting dalam pendidikan, karena siswa akan memperoleh stimulasi yang seimbang antara belahan otak kiri dan otak kanan (keseimbangan aspek kognitif dan aspek emosi). Pada Negara-negara maju, musik telah digunakan sebagai alat bantu pembelajaran dari Taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan perguruan tinggi (PT). Musik dapat digunakan sebagai alat bantu mengajar membaca, bahasa, mengingat, berimajinasi, dan secara keseluruhan prestasi akademik. Apabila siswa melamun atau berada dalam suasana hati yang emosional/tidak konsentrasi, dengan dilatar belakangi mendengarkan musik Mozart dapat membantu memper-kuat kesadaran dan meningkatkan daya ingat dan konsentrasi otak.

Menurut Campbell (2001), bahwa musik membawa suasana positif dan santai bagi banyak kelas, dan memungkinkan integritasi indra yang diperlukan untuk ingatan jangka panjang. Disamping itu musik juga berfungsi sebagai latar belakang dalam sejumlah ruang kelas untuk meredam bunyi-bunyi dan dapat digunakan secara berhasil untuk menimbulkan kegairahan, melepaskan stress, sebelum ujian, dan untuk memperkuat pokok bahasan. Musik juga dapat miningkatkan krea-tivitas, memperbaiki kepercayaan diri anak didik, mengembangkan keteram-pilan sosial, dan menaikkan perkem-bangan keterampilan motorik, persepsi, perkembangan psikomotor serta prestasi akademis keseluruhan.

Menurut De Porter (2004), ada dua belahan otak yaitu otak kanan dan otak kiri. Proses berpikir otak kiri bersifat logis, linear, dan rasional. Walaupun berdasarkan realitas ia melakukan penafsiran abstrak dan simbolis. Cara berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intutif, dan holistik. Perasaan, emosi, seni, musik, kreativitas, dan visualisasi merupakan hasil kerja otak kanan. Kedua belahan otak penting artinya. Orang yang memanfaatkan kedua belahan otak ini cenderung “seimbang” dalam aspek kehidupan. Ada teori yang mengatakan bahwa dalam situasi otak kiri sedang bekerja, seperti mempelajari materi baru, musik akan membangkitkan reaksi otak kanan yang intuitif dan kreatif sehingga masukannya dapat dipadukan dengan keseluruhan proses. Otak kanan cenderung terganggu selama rapat, kuliah/sekolah dan semacamnya, hal ini merupakan penyebab mengapa siswa tidak berkonsentrasi. Memasang musik adalah metode efektif untuk menyi-bukkan otak kanan ketika sedang konsentrasi pada aktivitas-aktivitas otak kiri.

Para ilmuwan berpendapat bah-wa kombinasi irama, melodi, harmoni, dan frekuensi tinggi yang digunakan Mozart, dapat menstimulasi area otak kanan, Andersen (1999). Penelitian lain menunjukkan bahwasuara pada kisaran frekuensi tinggilebih bias menstimulasi otak daripada frekuensi rendah. Suara pada frekuensi tinggi juga bias membuat otak lebih terfokus, dan musik Mozart, penuh dengan suara yang berfrekuensi tinggi yang menghasilkan kualitas tinggi (aku-kita-semua.blogspot.com).

Secara harfiah, musik Mozart menstimulasi otak untuk bereaksi, menghubungkan sel-sel yang berbeda, dan menciptakan jalur penghubung antara bagian-bagian otak yang berbeda. Jalur yang ditempuh oleh musik Mozart, memiliki pola yang sama dengan jalur yang ditempuh oleh otak dalam rangka menampilkan fungsi penalaran abstrak dan fungsi spasial yang tinggi. (Andersen, 1999).

Ada beberapa area tertentu yang bisa berfungsi lebih efektif bila sambil mendengarkan musik Mozart, yaitu pada saat : belajar spasial, (seperti geometri, matematika, dan fisika), belajar, bermain catur, meningkatkan fokus, dan konsentrasi, Andersen (1999).

Menurut Gordon Shaw (dalam Andersen, 1999) menyatakan bahwa musik Mozart dapat “melatih” otak sam-pai pada fungsinya yang tertinggi. Ada juga hubungan yang jelas antara aktivitas dan kinerja otak yang dipengaruhi musik Mozart dengan jenis aktivitas otak yang diperlukan untuk suatu pemikiran.

Jamshed Barucha, psikolog dari Darmouth Collage mengemukakan pendapatnya bahwa terciptanya musik yang tertata merupakan konsekuensi yang tidak terelakkan dari pertumbuhan otak (Campbell, 1997).

Barucha menyajikan teori bahwa pola musik pada dasarnya mencerminkan struktur perorganisasian pada otak manusia yang harus berkem-bang. Jadi karena otak manusia terus berkembang, maka pengaruh musik klasik yang kita dengarkan akan senantiasa berperan bagi perkembangan otak kita.

Musik berbicara dalam suatu bahasa yang bisa dimengerti secara naluriah. Musik dapat menarik anak-anak dan juga orang dewasa ke dalam orbitnya. Sementara itu, pola-pola musik yang tertata, iramanya yang memukau dan variasinya yang berinteraksi dengan otak dan tubuh melalui berbagai cara. Saat mereka yang mendengarkan musik merasa senang dan terhibur, musik juga membantu pembentukan perkembangan mental, emosi serta ketrampilan sosial, fisik, juga memberi kegairahan dan ketrampilan yang diperlukan untuk mulai belajar secara mandiri (Campbell, 2000).

Sedangkan ilmu pengetahuan alam sendiri sangat penting dalam kehidupan manusia, oleh karena itu, penguasaan individu terhadap pengeta-huan alam dan sekitarnya sangat diperlukan. Harus ada suatu cara yang efektif untuk digunakan dalam proses mempelajari mata pelajaran ilmu pengetahuan alam. Berdasarkan pene-litian sebelumnya oleh para ahli ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa pengkondisian situasi yang tepat saat belajar, akan bisa mempengaruhi hasil belajar seorang individu.

Pada saat belajar, menurut Andersen (1999), musik bisa digunakan dalam 3 hal, yaitu : sebagai pembukaan, pendamping, dan penutup belajar. Fungsi musik sebagai pembukaan bela-jar adalah untuk menyalakan otak, men-ciptakan situasi agar bisa mendengarkan dengan baik, dan membuat kita bisa memusatkan perhatian. Fungsi musik sebagai pendamping adalah untuk memperkuat ingatan, menyediakan pera-saan nyaman untuk belajar, menutupi suara yang dapat mengacaukan konsen-trasidan menjaga otak agar selalu siap. Sedangkan musik sebagai penutup adalah mengakhiri aktivitas belajar, menjadikan aktivitas menjadi menye-nangkan, serta menyediakan waktu untuk menggabungakan informasi yang baru diterima dengan informasi yang sudah terdapat dalam long term memory Oleh karena itu, untuk penelitian ini, fungsi musik yang digunakan adalah sebagai pendamping belajar individu.

Dapat diambil kesimpulan bahwa dengan mendengarkan musik Mozart, maka otak akan terbiasa untuk berada dalam situasi tertentu, dimana situasi itu juga diperlukan saat otak hendak mencapai fungsinyayang lebih tinggi, khususnya dalamkemampuan lebih daya ingat dan konsentrasi. Musik Mozart melatih otak untuk senantiasa berada dalam keadaan terbaik, sehingga menyebabkan individu mudah untuk belajar dan menyimpan informasi yang diperlukan dalam long term memory.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengkondisian situasi berupa pemberian latar belakang musik, dalam hal ini musik klasik yang disajikan selama proses belajar-meng-ajar berlangsung dapat mempengaruhi prestasi belajar ilmu pengetahuan alam pada siswa.

Tujuan penelitian  adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian efek musik Mozart terhadap prestasi belajar-mengajar ilmu pengetahuan alam antara anak yang mendapatkan latar belakang musik klasik saat belajar dengan anak yang tidak mendapatkan latar belakang musik klasik saat belajar.

 

 

Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan diciptakan baik secara individual, maupun kelompok. Prestasi tiak akan pernah dihasilkan selama seseorang tidak melakukan suatu kegiatan. Dalam kenyataan untuk mendapatkan prestasi tidak semudah apa yang dibayangkan, tetapi penuh perjuangan yang harus dihadapi untuk mencapainya. Hanya dengan keuletan dan optimisme dirilah yang dapat membantu untuk mencapainya.

Prestasi di sekolah dapat diartikan sebagai hasil usaha siswa yang diperoleh dengan belajar atau suatu kemampuan siswa untuk memahami pelajaran-pelajaran (Wirawan dalam Najiyah, 2003 & Djamarah, 2004).

Belajar adalah suatu proses perubahan yang terjadi dalam diri manusia, yang disebabkan oleh latihan dan pengalaman. Belajar terjadi karena adanya suatu materi atau pengetahuan tertentu yang ingin dicapai (Koesuma-wati, 1994; Soemanto, 2003; Whittaker dalam Soemanto, 2003; dan Dakir dalam Nashori, 2004).

Prestasi belajar Ilmu Penge-tahuan Alam adalah hasil yang diperoleh siswa dalam mempelajari konsep-konsep materi dan penalaran yang bersifat deduktif setelah siswa tersebut mengikuti proses belajar atau latihan Ilmu Pengetahuan Alam selama kurun waktu tertentu. Prestasi belajar ini dapat diperoleh berdasarkan hasil tes pada akhir proses belajar Ilmu Pengetahuan Alam ((Madden, 2002 & Subandi dalam Nashori 2004).

Pengertian musik adalah suatu produk pikiran yang merupakan sistem yang bersatu antara ekspresi dan emosi yang secara teratur kedalam pola yang menyenangkan dan menarik, yang disampikan oleh seorang komposer dalam bentuk bunyi yang indah, terdiri atas melodi, harmoni, dan ritme kepada seorang pendengar untuk mengkomu-nikasikan ide-ide, perasaan-perasaan tertentu melalui seorang pemain musik yang memiliki seni dan mengandung unsur cinta yang bersifat universal, dan merupakan bagian integral bagi kehidupan manusia (Hoffer, 1985; Partanto, 1994;  Campbell, 2000; Davis dalam Natalia, 2000; Hebermeyer dalam Maliha, 2003; & Udatul, 2003).

Musik klasik lahir pada abad 18 yaitu pada masa pencerahan. Pada awal masa ini estetika musik, seperti juga jenis seni yang lainnya mulai diperhatikan, yaitu dengan mengimitasi alam, memberikan pendengar suara menyenangkan dengan membayangkan kenyataan. Musik diharapkan tidak semata-mata meniru alam, tetapi lebih pada pengekspresian jiwa. Represen-tative dari musik klasik adalah Frank Joseph Haydn dan Wolfgang Amadeus Mozart (Hoffer, 1985).

Menurut Andersen (1999), musik klasik umumnya disebut juga sebagai musik Barok (Baroque music). Barok adalah suatu periode antara tahun 1600 sampai tahun 1750, dan masa ini berakhir dengan kematian komposer Jerman, Johan Sebastian Bach, yang dikenal sebagai kompesor Barok paling besar. Penggunaan musik klasik dalam penelitian ini disebabkan karena musik klasik lebih memiliki pola-pola yang tertata, irama-irama yang memukau dan variasi yang berinteraksi dengan otak dan tubuh melalui berbagai cara.

Musik klasik menemukan pada melodi. Irama dari musik ini pelan dari era musik yang sebelumnya. Musik Barok mempunyai perimbangan musik yang sangat baik, struktur musiknya juga jelas dan mengandung kesan keagungan dan keseriusan. Ciri-ciri musik Barok yang demikian itu menjadikan musik Barok sebagai musik yang serius dan dianggap sebagai sakralnya musik, (Kamien, 1934; Grout & Palisca, 1988, dalam Novviekayati, 2003).

Menurut Hoffer (dalam Udatul, 2005) musik klasik mempunyai beat yang dapat dirasakan dengan kuat dan mantap, melodinya seringkali disusun dari ide-ide pendek yang dirangkai bersama, terdapat beberapa ornament, harmoninya sistematis, perubahan kekerasan nada adalah secara bertahap estetika musiknya bersifat umum dan menimbulkan suasana yang anggun.

Mozart memiliki pengalaman dalam kandungan yang berbeda dengan bayi lainnya. Ketika masih dalam kandungan, setiap hari Mozart diper-dengarkan musik terutama berbunyi seperti permainan bola ayah yang hampir pasti meningkatkan perkem-bangan neurologis dan membangkitkan irama-irama kosmik dalam rahim. Ayah Mozart adalah seorang Kapellmeister, atau pemimpin orkestra di Salzburg, dan ibunya putri seorang musisi memainkan peran seumur hidup dalam pendidikan musik putranya, yang diawali dengan nyanyian-nyanyian dan serenade selama kehamilannya.

Mozart dikenal sebagai pemain berbakat sejak usia empat tahun. Mozart menggubah minuet dan trio bagi keyboard ketika berusia enam tahun, Dan sampai saat terakhirnya Mozart telah menghasilkan 626 gubahan besar. Pada usia dua belas tahun Mozart terus menerus menulis, dan selama perjalanan karirnya Mozart telah menciptakan tujuh belas opera, empat puluh satu simfoni, dua puluh tujuh konserto, untuk piano, lusinan sonata piano, dan musik untuk organ, clarinet, dan instrument lainnya.

Lingkungan kelas mempenga-ruhi kemampuan siswa untuk berfokus dan menyerap informasi. Oleh karena itu musik membuka kunci keadaan belajar optimal dan membantu menciptakan asosiasi. Musik klasik adalah musik yang paling sesuai untuk belajar, mengulang, dan pada saat berkon-sentrasi (De Porter, 2004).

Penggunaan musik tidak hanya memainkannya atau menggubahnya, tetapi cukup dengan mendengarkannya, menyenandungkan, atau berayun mengi-kuti irama, juga telah terbukti mening-katkan kemampuan membaca, daya ingat, perbendaharaan kata, dan kreativitas (Campbell, 2002).

Mendengarkan musik telah terbukti melambatkan laju denyut jantung, mengaktifkan gelombang-gelombang otak untuk kegiatan berpikir tingkat tinggi, dan menciptakan kondisi yang positif, santai, mudah menerima, dan ideal untuk belajar. Orang tua dan guru dapat memanfaatkan musik klasik sebagai latar belakang ketika anak-anak sedang belajar. Struktur dana daya tarik estetik musik telah terbukti membantu informasi menempel lebih lama. Keindahan musik dan misteri di baliknya mendatangkan suatu rasa kagum yang membangkitkan semangat belajar membaca, matematika, ilmu pengetahuan alam, atau pelajaran seni (Campbell, 2002).

Menurut De Porter (2002), musik berpengaruh pada guru dan siswa. Sebagai seorang guru, dapat menggunakan musik untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar. Musik membantu siswa belajar, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Musik dapat meningkatkan banyak koneksi syaraf dalam otak, dan merangsang ketrampilan verbal. Musik dapat memberikan kebiasaan belajar yang baik, dan dapat membantu mengingat fakta-fakta dengan mudah. (Campbell, 2002).

Menurut Andersen (1999), musik yang dapat digunakan dalam belajar apabila secara terus menerus dapat menstimuli dan menenangkan; dapat berulangkali berpindah antara kondisi alpha dan beta; harus bisa melibatkan otak kanan dan otak kiri. Berdasarkan uraian diatas, maka komposisi musik Mozart sangat tepat untuk digunakan dalam belajar terdapat beberapa hal antara lain: setiap bagiannya sangat melodis; sehingga otak bisa memperkirakan irama seperti apa yang mungkin akan muncul kembali; suasana iramanya dapat menstimulasi otak; memiliki irama yang berkelanjutan sehingga bisa membantu kita santai.

Memilih musik dengan syarat-syarat tertentu adalah sangat penting dalam belajar. Musik Mozart dengan tempo 55 sampai 70 ketukan permenit bisa membuat kita lebih fokus dan lebih siap untuk belajar. (Andersen, 1999) menyatakan bahwa tempo 55 sampai 70 ketukan permenit adalah setara denagan rata-rata denyut nadi manusia saat beristirahat. Saat kita berusaha keras utnuk belajar, dangan mendengarkan musik ini, denyut nadi kita kan setara denagn tempo musik, (pembuluh darah di otak akan berhenti berkontraksi saat individu merasa tertekan), sehingga akan membuat lebih banyak darah mengalir ke otak dan membuat kita lebih siap untuk belajar. Selain itu, musik yang digunakan dalam belajar harus tetap pada volume suara yang kecil, agar tidak mengacaukan kita. Yang menarik dari penggunaan musik untuk belajar, yaitu bahwa individu tidak perlu merasa suka terhadap jenis musik tertentu yang mungkin bisa digunakan dalam belajar, bahkan individu tersebut tidak perlu menyukai musik sama sekali.

Terdapat empat (4) bentuk gelombang otak, menurut Andersen (1999), antara lain : beta adalah bentuk kecepatan tinggi, terjadi saat kita melakukan aktivitas sehari-hari; alpha adalah bentuk yang lebih perlahan, terjadi saat kita bersantai, berpikir tentang sesuatu; theta adalah tahap mendekati mimpi, terjadi saat kita hendak tidur atau sedang bermeditrasi; delta adalah tahap tidur.

Andersen (1999), mengatakan bahwa dalam belajar, musik bisa digunakan sebagai pembukaan belajar (untuk menyalakan otak, menciptakan situasi agar bisa mendengarkan dengan baik, dan membuat kita bisa memu-satkan perhatian); sebagai pendamping belajar (untuk memperkuat ingatan, menyediakan perasaan “aman” untuk belajar, menutupi suara-suara yang bisa mengacaukan konsentrasi dan menjaga agar otak selalu “siap”); sebagai penutup belajar (untuk mengakhiri aktifitas belajar, menjadikan aktivitas belajar menyenangkan serta menyediakan waktu untuk menghubungkan informasi yang baru diterima dengan informasi yang sudah terdapat dalam long term memory. Pada penelitian ini fungsi musik yang digunakan adalah sebagai pendamping belajar individu).

Ilmu Pengetahuan Alam sangat penting dalam kehidupan manusia, karena bisa digunakan dalam berbagai hal dalam kehidupan. Oleh karena itu, penguasaan individu terhadap mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam sangat diperlukan. Harus ada suatu cara tertentu yang efektif umtuk digunakan dalam proses mempelajari mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh para ahli ada cukup bukti yang menunjukkan bahwa pengkondisian situasi yang tepat saat belajar akan bisa mempengaruhi hasil belajar seorang individu.

Menurut Andersen (1999), bahwa musik dapat digunakan dalam 3 hal diantaranya sebagai pembuka, pendamping, dan penutup. Fungsi musik sebagai pembukaan dalam belajar adalah untuk “menyalakan” otak, menciptakan situasi agar bisa mendengarkan dengan baik, dan membuat kita bisa memusatkan perhatian. Fungsi musik sebagai pendamping belajar adalah untuk memperkuat ingatan, menye-diakan perasaan aman untuk belajar, menutupi suara-suara yang bisa menga-caukan konsentrasi dan menjaga agar otak selalu “siap”. Sedangkan musik sebagai penutup belajar adalah untuk mengalhiri aktivitasa belajar, menja-dikan aktifitas belajar menjadi menye-nangkan serta menyediakan waktu untuk menggabungkan informasi yang baru diterima dengan informasi yang sudah terdapat dalam long term memory. Oleh karena itu, untuk penelitian ini, fungsi musik yang digunakan adalah sebagai pendamping belajar individu.

Oleh karena itu dapat diambil kesimpulan bahwa dengan mendengar-kan musik Mozart, maka otak akan terbiasa untuk berada dalam situasi tertentu, dimana situasi itu juga akan diperlukan saat otak hendak mencapai fungsinya yang lebih tinggi, khususnya dalam kemampuan spasial sosial individu. Musik Mozart melatih otak untuk senantiasa berada pada keadaan terbaiknya, sehingga menyebabkan indi-vidu mudah untuk belajar dan menyimpan informasi yang diperlukan dalam long term memory.

Musik dapat meningkatkan banyak koneksi saraf dalam otak, dan merangsang keterampilan verbal. Musik dapat memberikan kebiasaan belajar yang baik, dan dapat membantu mengingat fakta-fakta dengan mudah (Campbell, 2002).

Menurut De Porter (2002), musik dapat berpengaruh pada guru dan siswa. Sebagai seorang guru, dapat menggunakan musik untuk menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar. Musik membantu siswa belajar lebih banyak. Musik merangsang, meremajakan, dan memperkuat belajar, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Musik Mozart sangat baik untuk di dengar karena getaran atau frekuensi tertentu yang diterima telinga akan mengisi dan mengaktifkan sel otak. Irama, melodi, dan frekuensi musik karya Mozart merangsang wilayah-wilayah kreatif dan motivasi di otak. Musik klasik Mozart memiliki kejernihan, keanggunan dan kebeningan. Musik ini mampu memperbaiki konsentrasi, ingatan dan persepsi spasial (Campbell, 2001).

Mendengarkan musik telah terbukti melambatkan laju denyut jantung, mengaktifkan gelombang-gelombang otak untuk kegiatan berpikir tingkat tinggi, dan menciptakan  kondisi yang positif, santai, mudah menerima, dan ideal untuk belajar. Orang tua dan guru dapat memanfaatkan musik klasik sebagai latar belakang ketika anak-anak sedang belajar. Struktur dan daya tarik estetik musik telah terbukti membantu membuat informasi menempel lebih lama. Keindahan musik dan misteri di baliknya mendatangkan suatu rasa kagum yang membangkitkan semangat belajar membaca, matematika, ilmu pengetahuan alam atau seni (Cambpell, 2002).

Hasil-hasil penelitian yang menggunakan musik Mozart juga begitu mengesankan sampai akhirnya orang terbiasa dengan istilah “efek Mozart”. Ungkapan ini mencakup berbagai fenomena, antara lain seperti kemampuan musik Mozart untuk meningkatkan kesadaran ruang dan waktu, meningkatkan konsentrasi dan kemampuan bicara para pendengarnya, memungkinkan lompatan cukup jauh dalam keterampilan membaca dan berbahasa di kalangan anak-anak (Campbell, 2000).

Mendengarkan musik Mozart, maka otak akan terbiasa untuk berada dalam suatu situasi tertentu, dimana situasi itu juga akan diperlukan saat otak hendak mencapai fungsinya yang lebih tinggi, khususnya dalam kemampuan spasial individu. Musik Mozart melatih otak untuk senantiasa berada pada keadaan terbaik, sehingga menyebabkan individu mudah untuk belajar dan menyimpan informasi yang diperlukan dalam long term memory. Musik klasik Mozart dapat meningkatkan kemampuan dalam menangkap pelajaran, membang-kitkan semangat belajar, memberikan kebiasaan yang baik, dan dapat membantu mengingat dengan mudah seperti belajar membaca, matematika, ilmu pengetahuan alam, atau pelajaran seni.

Hipotesis penelitian yang diajukan adalah  terdapat pengaruh positif pemberian musik mozart terhadap peningkatan prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam.

 

Metode Penelitian

Dalam penelitian ini, terdapat variabel bebas yang akan dilihat pengaruh terhadap variabel tergantung. Sebagai variabel Bebas adalah Pemberian Musik Mozart dan sebagai variabel Tergantung adalah Prestasi Belajar Ilmu Pengetahuan Alam

Subyek penelitian pada penelitian ini adalah siswa Sekolah Dasar Negeri Medalem Sidoarjo Klas 3 dengan jumlah 22 siswa untuk kelompok control dan 22 siswa untuk kelompok eksperimen.

Desain eksperimen yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah pretest-posttest control grup design. Desain eksperimen yang dilakukan dengan jalan melakukan pengukuran atau observasi awal sebelum perlakuan diberikan dan setelah perlakuan.

Ada dua kelas sampel yang akan dibedakan yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen diberikan perlakuan (treatment), yaitu pada saat proses belajar-mengajar Ilmu Pengetahuan Alam berlangsung, siswa akan diiringi musik pengiring belajar Mozart, kelas yang menjadi kelompok kontrol tidak diberikan perlakuan, yaitu tidak diiringi musik pengiring belajar Mozart.

Pada kelompok A (kelompok eksperimen) dikenai perlakuan (treatment), yaitu pada saat belajar-mengajar Ilmu Pengetahuan Alam berlangsung dikenai perlakuan berupa iringan musik Mozart yang diputar selama 45 menit/hari (1), musik disajikan pada saat awal pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam hingga selesai.

Pada kelompok B (kelompok kontrol) tidak dikenai perlakuan (treatment), yaitu pada saat belajar-mengajar Ilmu pengetahuan Alam tidak dikenai perlakuan berupa iringan musik Mozart (0).

Waktu penelitian dilaksanakan 12x mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (1 minggu 2x pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam). Musik Mozart yang diberikan sebagai pengiring pada saat mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam adalah CD Music for the Mozart Effect Vol-1-Strengthen The Mind : Music for Intelligence and Learning, yang terdiri dari : Allegro-Violin Concrto No. 3 in G Major (K. 216), Rondo-Allegro, Eine Kleini Nachtmuck in DMajor (K. 525), Adante Grazioso, London Night Music No.1 (K. 247, Molto Allegro, Shymphony # 14 in A Major, (K.114), Presto, Divertimento in D Major (K. 136).

Dalam rangka pengumpulan data, menggunakan metode tes untuk mengukur tingkat kemampuan siswa. Adapun alat pengukur data adalah soal-soal essay Ilmu Pengetahuan Alam. Salah satu kebaikan soal essay adalah dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami suatu masalah yang diteskan (Arif, 2004). Soal akan diberikan sebelum materi diajarkan, dimana soal sebelum dan sesudah materi tersebut tidak sama. Soal sebelum diberi perlakuan disebut Pretest (T1), dan soal sesudah diberi perlakuan disebut Postest (T2).

Dalam penelitian ini, alat pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan metode pengukuran yang digunakan adalah tes prestasi Ilmu Pengetahuan Alam. Kemudian dari hasil tes tersebut, berusaha menentukan sampai sejauh mana siswa maju ke arah tujuan yang harus dicapai. Tes prestasi ini terbagi menjadi 2 bagian, yaitu pretest soal Ilmu Pengetahuan Alam dibuat oleh penulis yang terdapat dalam buku pakat Ilmu Pengetahuan Alam yang digunakan oleh siswa kelas III Sekolah Dasar Negeri Medalem Sidoarjo. Buku Paket berjudul “Ilmu Pengetahuan Alam Kelas III Sekolah Dasar”.

Statistik yang akan digunakan dalam menganalisa data penelitian ini adalah One-Way Anava untuk menge-tahui pengaruh pemberian musik Mozart terhadap kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.

Selama penelitian berlangsung baik kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen mendapatkan perlakuan yang sama. Kedua kelompok mengikuti pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam, bedanya pada kelompok ekspe-rimen selama pelajaran berlangsung diiringi alunan musik Mozart, sementara kelompok kontrol tidak demikian.

 

Hasil Analisa Data

Berdasarkan perhitungan analisa anava diperoleh nilai F = 16,609 dengan signifikansi 0,000 (<0,050); maka dapat diartikan bahwa ada pengaruh positif pemberian musik Mozart terhadap peningkatan prestasi belajar pada kelom-pok eksperimen.

Hasil wawancara adalah bahwa siswa yang diberi latarbelakang musik Mozart pada saat pelajaran IPA berlangsung  lebih bersemangat, kon-sentrasi, dan tidak ramai (lampiran).

Berdasarkan hasil perhitungan statistik, wawancara, dan observasi, maka musik Mozart dapat mempe-ngaruhi prestasi belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam. Latar belakang musik Mozart yang diberikan pada waktu siswa sedang mengikuti pelajaran IPA, ternyata dapat memberikan hasil yang nyata berupa peningkatan prestasi belajar IPA pada siswa kelas III SDN Medalem Sidoarjo. Berdasarkan hasil analisa secara umum, rata-rata hasil belajar siswa diiringi musik Mozart sebagai pengiring belajar selama kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih baik jika dibandingkan dengan rata-rata hasil belajar siswa yang tidak diiringi musik Mozart.

Adanya pengaruh penggunaan musik Mozart terhadap peningkatan prestasi belajar, berarti penggunaan musik Mozart dalam proses pembe-lajaran dapat memodifikasikan gelom-bang otak menjadi lambat dan mencip-takan keseimbangan, yang selanjutnya dapat menciptakan emosi positif yang berdampak terhadap peningkatan perha-tian serta konsentrasi terhadap materi yang diberikan oleh guru. Dapat pula membantu siswa dalam memanggil kembali materi yang telah dipelajari sebelumnya.

Hasil tersebut sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Frances H. Rauscher (1990), dalam Center For Neurobiology Of Learning And Memory di Irvine dkk, Rauscher member tes penalaran spasial menurut tes IQ standart kepada 36 Mahasiswa. Sebelum tes dilakukan, mereka harus mende-ngarkan karya Mozart Sonata Dua Piano dalam D mayor, K.448, selama sepuluh menit sebelum tes pertama, mende-ngarkan tes relaksasi sebelum tes kedua, tidak mendengarkan apapun pada tes ke tiga. Berturut-turut hasilnya, ketika diterjemahkan ke dalam skor-skor IQ spasial yang sesungguhnya adalah 119, 111, 110. Mendengarkan musik Mozart membuat para mahasiswa tersebut semakin meningkat kinerja mereka pada tes IQ Standart sebanyak 9 poin. Perolehan IQ tampak menurun sesudah 15 menit (Campbell, 1999).

Menurut De Porter (2002), musik berpengaruh pada guru dan siswa. Sebagai seorang guru, dapat menggu-nakan musik dapat menata suasana hati, mengubah keadaan mental siswa, dan mendukung lingkungan belajar. Musik membantu siswa belajar lebih baik dan menginat lebih banyak. Musik merang-sang, meremajakan, dan memperkuat belajar, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Ada hasil yang diperoleh pada saat melakukan belajar terhadap akti-vitas otak pada waktu belajar sambil mendengarkan musik Mozart, yaitu otak melakukan aktivitas yang hampir sama, bagian otak yang aktif juga hampir sama. Keuntungan penggunaan musik salama proses belajar adalah membuat siswa relaks, dan mengurangi stres (stres yang menghambat proses dalam belajar), merangsang kreatifitas dan kemampuan berpikir. Musik sangat efektif untuk proses pembelajaran yang melibatkan pikiran sadar maupun pikiran bawah sadar (Gunawan 2006, dalam Faralinda, 2006).

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Bodner (dalam Rachmawati, 2005). Seorang professor psikiater dari University of California, mengemukakan hasil penelitian tentang adanya basisneurofisiologis berkenaan dengan pengaruh musik, dengan melakukan eksperimen untuk melihat wilayah-wilayah otak yang aktif secara berbeda saat mendengarkan berbagai jenis musik. Otak diamati dari empat sudut, hasil penelitian ini bahwa melalui musik Mozart, bagian koteks menyala diberbagai area wilayah aktif. Musik klasik dapat melibatkan kedia belahan otak kiri dan otak kanan. Menurut Nugroho (2007) musik klasik adalah pilihan yang cocok bagi seseorang yang ingin meningkatkan daya konsentrasi.

Lingkunan kelas mempengaruhi kemampua siswa untuk berfokus dan menyerap informasi. Oleh karena itu musik membuka kunci keadaan belajar optimal dan membantu menciptakan asosiasi.  Musik klasik adalah pilihan yang tepat untuk pengiring belajar, sebagai pengulang, dan konsentrasi. Irama melodi, dan frekuensi musik karya Mozart merangsang dan menya-lakan wilayah kreatif dan motivasi otak. Musik mampu memperbaiki konsentrasi, ingatan dan persepsi.

Riset juga menunjukkan adanya kaitan langsung antara musik dan fisiologis tubuh. Musik dapat merubah suasana hati, perasaan, dan membantu proses belajar dengan membangkitkan emosi positif (Madden, 2002).

Howard Gardner, seorang guru besar pendidikan pada Graduate School of Education Harvard dan juga peneliti di California University melakuakn penelitian mengenai pengaruh mende-ngarkan musik klasik karya Mozart seperti “Sonata for Two Pianos” terhadap kecerdasan spasial dan kemam-puan konsentrasi. Peserta penelitian dibagi menjadi tiga kelompok, antara lain : kelompok 1 adalah kelompok yang diperdengarkan musik Mozart, kelompok 2 adalah kelompok yang tidak diperdengarkan apa-apa, kelompok 3 adalah kelompok yang diperdengarkan musik campuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok 1 mengalami peningkatan skor pada tes pengenalan pola sampai dengan 62%, kelompok 2 mengalami peningkatan sebesar 14%, dan kelompok 3 mengalami peningkatan sebesar 11% (Campbell, 1997).

Marrit (1996), menjelaskan bahwa musik memberi fasilitas pada belahan otak dengan beberapa cara. Para ilmuwan syaraf menemukan bahwa musik klasik mengaktifkan aliran implus syaraf ke Corpus Collmus, yaitu jaringan serabut otak yang menghubungkan kedua belahan otak  dan secara harmoni menghubungkan kedua bagian otak itu. Ritme tubuh akan menyelaraskan diri dengan tempo musik yang didengarkan, sehingga orang bisa melakukan banyak pekerjaan mental sambil tetap merasa santai dan kalau kedua bagian otak itu berfungsi secara independen bisa bekerjasama dan berintegrasi, akan membuat memori jauh meningkat.

Penelitian yang dila-kukan oleh Campbell (2000) sampai pada kesim-pulan bahwa music klasik memiliki pengaruh yang sangat luar biasa baik untuk penyembuhan, peningkatan kon-sentrasi, maupun relaksasi. Bolt et al (1991) menyatakan bahwa musik mem-punyai fungsi yang berbeda-beda di setiap budaya, namun yang paling me-nonjol adalah pengaruh musik pada mood dan emosi dari pendengaran.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bah-wa hipotesis yang menyatakan ada paengaruh pemberian musik Mozart terhadap peningkatan prestasi belajar Ilmu Pengetahuan Alam dapat diterima. hal ini dapat diketahui dari hasil perhitungan Anava one-way pada kelompok eksperimen menghasilkan nilai Mean Pratest = 7,95 dan Mean Postest = 11,73. Pada kelompok kontrol menghasilkan nilai Mean Pratest = 7,86 dan Mean Postest = 8,09. Dan diperoleh nilai F = 16,609 dengan signifikansi 0,000 (<0,050).

Dengan demikian musik Mozart dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Khususnya dalam mata pelajaran IPA. Latar belaakng musik Mozart yang diberikan pada waktu siswa sedang mengikuti pelajaran IPA didalam kelas, ternyata dapat memberikan hasil yang nyata berupa peningkatan prestasi belajar IPA pada siswa kelas III SDN Medalem Sidoarjo. Berdasarkan analisa secara umum, rata-rata hasil belajar siswa diiringi music Mozart sebagai pengiring belajar selama kegiatan belajar mengajar berlangsung lebih baik jika dibandingkan dengan rata-rata hasil belajar siswa yang tidak diiringi musik Mozart.

Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Thorndike, suatu sekolah harus mempunyai tujuan pendidikan yang sudah dirumuskan dengan jelas. Harus terbagi sesuai unit-unit, sehingga guru dapat mempersuasi menurut bermacam-macam situasi, misal situasi yang menyenangkan. Proses belajar harus dari sederhana sampai ke yang kompleks. Dengan memberi pelajaran di sekolah dengan eksperimen (trial and error) anak akan dapat menggunakan di luar sekolah dan juga di dalam kehi-dupan sehari-hari.

Dapat disimpulkan bahwa adanya beberapa subyek yang secara signifikan mengalami peningkatan dalam belajar ketika proses belajar tersebut dengan diiringi musik Mozart, dan adanya beberapa subyek yang tidak mengalami peningkatan secara signi-fikan, salah satunya dapat disebabkan oleh perbedaan modalitas belajar yang mereka miliki, dan modalitas belajar ini sangat berpengaruh dalam proses mendapatkan informasi.

Terkait dengan keterbatasan penelitian ini, untuk penelitian selanjutnya dapat dikembangkan dengan memperhatikan beberapa variabel lain dan dimungkinkan ada metode  lain yang lebih efektif untuk proses belajar mengajar.

Kesimpulan dan Saran

Adanya latar belakang musik klasik saat siswa belajar di dalam kelas membuatb suasana di kelas menjadi lebih menyenangkan dan hal ini men-jadikan siswa lebih berminat terhadap materi yang tengah diberikan sehingga siswa tersebut kemudian bisa menda-patkan prestasi yang lebih baik.

Siswa menganggap bahwa situasi kelas dengan latar belakang musik klasik itu menyenangkan, maka mereka memiliki persepsi yang baik mengenai materi yang akan disam-paikan. Persepsi yang baik ini membe-rikan minat belajar, sehingga siswa bisa mendapatkan prestasi yang lebih baik.

Dengan menyertakan latar bela-kang musik klasik selama pelajaran berlangsung dapat meningkatkan fungsi lingkungan sekolah dalam rangka memperbaiki tingkat prestasi siswa, maka perlu dilakukan pengoptimalan semua kegiatan dan instrument yang dirasa bisa membantu siswa untuk lebih berminat dalam belajar. Berdasarkan pada penelitian ini pemberian latar bela-kang musik klasik berpengaruh terhadap prestasi belajar, dan dapat mengurangi rasa jenuh dalam menghadapi pelajaran selama pelajaran bisa dilakukan.

Diharapkan untuk lebih berani membuat pembaharuan dalam system pendidikan, pembaharuan tersebut telah terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, berupa pemberian musik klasik, khususnya karya Mozart selama mata pelajaran berlangsung.

Orang tua hendaknya meluang-kan waktu untuk membicarakan kesu-litan yang dihadapi anak di sekolah. Hendaknya menciptakan suasana belajar di rumah yang menyenangkan dengan menggunkan iringan musik klasik sebagai pendamping belajar. Memberi reward berupa barang maupun pujian apabila anak mendapatkan prestasi, agar anak termotivasi dalam belajar. Menjalin hubungan dengan guru, agar dapat membantu perkembangan anak di sekolah

Diharapkan mampu membuat penelitian eksperimen yang serupa namun dengan mata pelajaran yang berbeda. Dapat menggunakan jenis musik yang berbeda misalnya musik tradisional atau jazz untuk melihat keberhasilan dalam meningkatkan prestasi dalam belajar.

 

Daftar Pustaka

Alsa, Asmadi. (2004). Pendekatan Kuantitatif - Kualitatif Dalam Penelitian Psikologi, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Andersen, Ole. Marsh Marcy & Harvey, Arthur. (1999). Learn With The Classics Using Music To Study Smart At Any Age. San Francisco : LIND Institut.

Azwar, Saifuddin. (2003). Reabilitas & Validitas. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

…………, (2004). Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta : Andi.

Campbell, Don, (1997). Efek Mozart, Jakarta : Gramedia

_______, (2000). Efek Mozart Untuk Anak-anak, Terjemahan oleh Alex Tri, Jakarta : Gramedia.

_______ (2001). Memanfaatkan Keku-atan Musik untuk Meningkatkan Kreativitas dan Menyehatkan Tubuh. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

De Porter, Bobby & Mark Readon & Sarah S. (2004) Quantum Thea-ching: Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung : Kaifah.

_______ (2002). Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung : Kaifah.

Dimyati, (2002) Belajar & Pembe-lajaran. Jakarta: Rine-ka Cipta.

Djamarah, (2004). Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Gufron, Nur, (2004). Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa SMU de-ngan Pengelolaan Diri dalam Belajar. Journal Psikologi Tabulasi. Vol. 2, No. 3, 200-212.

Hadi, Sutrisno, (1985). Metodologi Penelitian Research IV, Yogya-karta : Yayasan Penerbit Fakultas Psikologi UGM.

Hasan, M Iqbal, (2002). Pokok-pokok Materi Metode Penelitian dan Aplikasinya. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Hodges, D.A, (1999). Neuromusical Research: A review of the Literature. In Donal A. Hodges (edt). Handbook of Music Psychology. 2nd ed. USA : The University of Texas at as San Antonio.

Hoffer, C.R, 1985. The Understanding of Music. 5th edt. California : Wadseorth Publishing Company.

Johanna, (2001), Pengaruh Terapi Musik Terhadap Ketrampilan Berbahasa Pada Anak Autis. Anima, Indo-nesian Psychological Journal Vol.16 No.2, 190-214.

Koesumawati, Tjandra, (1994). Perbe-daan Prestasi Belajar Matematika Ditinjau Dari Metode Tradisional dan CBSA. Skripsi Fakultas Psikologi Universitas Airlangga. Tidak diterbitkan.

Latipun, (2006). Psikologi Eksperimen. Malang : UMM press.

Madden, Thomas L, (2002). F.I.R.E – Up Your Learning. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Madya, (2007). Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan?. Jakarta: PT. Gra-media Pustaka Utama.

Maliha, Siti, (2003), “Studi Tentang Pengaruh Terapi Musik Terhadap Insomnia”, Skripsi Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Marrit, Stephanie, (1996). Shimfony Otak, terjemahan oleh : Lala Herawati.  Bandung: Kaifah.

Mud`har, (2006). Modul Praktikum Aplikasi Komputer. Hand Out Kuliah Aplikasi Komputer. Surabaya: Universitas Putra Bangsa, Fakultas Psikologi. Tidak diterbitkan.

Mukmini, Siti, (2003). Pengaruh Musik Terhadap Berbagai Bidang. Hand Out. Seminar Peningkatan  Mutu dan Kepala Sekolah Dasar Seluruh DKI, Jakarta. Tidak diterbitkan.

Najiyah, S, 2003. Perbedaan Prestasi Belajar Anak di Sekolah Dasar Ditinjau dari Tingkat Pendidikan Mental Aritmatika. Skripsi. Fakul-tas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Tidak diterbitkan.

Nashori, F, (2004). Peranan Kualitas Tidur Terhadap Prestasi Belajar Mahasiswa. Journal Insan Media Psikologi vol.6, No.3, 159-198.

Natalia, Johanna, (2000), “Pengaruh Musik Gamelan Terhadap Emosi Bayi Baru Lahir”, Jurnal Anima Vol.15.

Noviekayati, IGAA, (2003). Efektifitas Relaksasi Otot Progresif dengan Mendengarkan Musik Klasikal untuk Mengurangi Stres Anak, Tesis. Program Pasca Srajana UGM Program Studi Psikologi.

Nugroho, W, (2007). Belajar Mengatasi Hambatan Belajar. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Partanto, Pius, (1994). Kamus Ilmiah Populer, Surabaya : Arloka.

Prastito, Arif, (2004). Cara Mudah Mengatasi Masalah Statistik. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.

Rachmawati, Y, (2005). Musik Sebagai Pembentuk Budi Pekerti : Sebuah Panduan Untuk Pendidikan. Yogyakarta : Panduan.

Soemanto, (2003). Pembahasan Terpadu Statistik dan Metodologi Riset. Yogyakarta   

Suryabrata, Sumadi, (2000). Pengem-bangan Alat Ukur Psikologi, Edisi I. Yogyakarta : Andi.

Udatul, (2003). Pengaruh Musik Klasik Terhadap Reaksi Emosi Bayi Usia Empat Bulan Sampai Dua Tahun Pertama. Skripsi Fakultas Psiko-logi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Tidak diterbitkan.

 

 


Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya