Artikel 6

,00 0000 - 00:00:00 WIB
Dibaca: 650 kali

PERBEDAAN TINGKAT RESILIENSI PADA REMAJA DALAM KELUARGA DISFUNGSIONAL DITINJAU DARI JENIS KELAMIN

 

Ratna Eliyawati dan Pandu Prasukma

Fakultas Psikologi Untag Surabaya

 

Abstrak

 

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat resiliensi pada remaja yang berasal dari keluarga disfungsional ditinjau dari jenis kelamin. Resiliensi adalah kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkan untuk menghadapi, mencegah, meminimalkan dan bahkan menghilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, atau bahkan merubah kondisi yang menyengsarakan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi. Subyek dalam penelitian  ini adalah remaja di Surabaya dengan jumlah 60 orang yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : a) Remaja usia 13-21 tahun  dan belum menikah, b) Jenis kelamin laki-laki atau perempuan, c) Status pelajar SLTP, SMU, atau mahasiswa tahap awal, d) yang orang tuanya bercerai.Untuk menganalisa data yang diperoleh digunakan teknik yaitu dengan menggunakan t-Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis tidak terbukti.Artinya remaja perempuan memiliki kemampuan resiliensi yang

sama besar dengan remaja laki-laki. Hal ini bisa disebabkan karena beberapa faktor salah satunya yaitu adanya perubahan peran gender.

 

Kata Kunci : resiliensi, keluarga disfungsional

 

 

 

Pendahuluan

Masa remaja merupakan masa transisi atau masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju kede-wasaan. Pada masa ini adalah remaja mencari jati diri. Pencaharian jati diri merupakan proses dari perkem-bangan pribadi anak. Menurut Erickson (dalam Kartini Kartono, 2003) masa remaja merupakan masa pencarian suatu identitas menuju kedewasaan. Keluarga memiliki peran besar untuk membantu remaja pada masa transisi ini, seperti diungkapkan Satiadarma (2001) keluarga merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar berinteraksi sosial. Jadi disini adalah keluarga yang bertanggung jawab dalam perkembangan sosial anak.

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak serta beberapa orang lain yang masih terikat dalam hubungan darah dan saling ketergantungan atau membutuhkan satu sama lain. Setiap anggota keluarga mempunyai peran-an masing-masing. Ayah sebagai kepala keluarga berperan melindungi istri dan anak-anaknya. Seorang ayah juga berperan sebagai pengambil keputusan. Ibu sebagai istri berperan melindungi dan mendidik anak-anak dengan penuh kasih sayang. Anak hanya bertugas untuk berbakti kepada orangtua dan menjalankan segala petunjuk-petunjuk atau perintah yang telah diberikan orangtua agar bisa menjadi anak yang membanggakan (id.wikipedia. org/wiki/Keluarga).

Kedudukan dan fungsi suatu keluarga dalam kehidupan manusia bersifat primer dan fundamental. Keluarga pada hakekatnya meru-pakan wadah pembentukan masing-masing anggotanya, terutama anak-anak yang masih berada dalam bimbingan tanggung jawab orangtua. Perkembangan anak pada umumnya meliputi keadaan fisik, emosional sosial dan intelektual. Bila kese-muanya berjalan secara harmonis maka dapat dikatakan bahwa anak tersebut dalam keadaan sehat jiwa.

Agar remaja mengalami per-kembangan yang baik, yaitu berkem-bang sesuai prinsip perkembangan, sebaiknya remaja diperhatikan di lingkungan keluarga yang harmonis. Menurut Mahfudli (1995) keluarga harmonis adalah hidup bahagia dalam ikatan cinta, kasih suami istri yang di dasari kerelaan, keselarasan hidup dalam ketenangan lahir dan batin karena merasa cukup puas atas segala sesuatu yang ada. Seiring dengan itu Singgih D Gunawan (1995), menyatakan bahwa keluarga bahagia adalah bila mana seluruh anggota keluarga merasa bahagia yang ditandai oleh berkurangnya ketegangan kekacauan dan puas terhadap seluruh keadaan dan kebe-radaan dirinya. Jadi keluarga harmo-nis adalah keluarga yang bahagia yang ditandai dengan hidup tentram, mencukupkan dengan keadaan yang ada, dan jauh dari kehancuran. Situasi atau suasana keluarga yang harmonis akan membuat seorang anak merasa aman karena mereka tidak merasa kehilangan tempat untuk berpijak dan berlindung, sehingga diharapkan anak akan mengalami perkembangan yang baik karena keluarga dapat menjalankan fungsi-fungsi nya dengan baik 

Willson Nadeeh (1993) berpendapat bahwa anak yang dibesarkan dalam keluarga pincang, cenderung sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan, kesulitan itu datang secara alamiah dari diri anak tersebut. Rasa jengkel, marah, dendam yang dialami remaja karena kondisi keluarga yang berantakan (disfungsional) bisa saja membuat mereka mengambil resiko dengan melakukan kenakalan atau bahkan tindakan yang jauh lebih buruk lagi, namun tidak semua remaja mengalami hal tersebut dalam arti terdapat juga remaja yang tidak terlalu terpengaruh oleh trauma akan kondisi keluarga yang berantakan. Banyak di antara mereka mampu menghadapi tekanan-tekanan itu dengan baik dan cepat beradaptasi pada situasi baru sehingga remaja tersebut tidak mudah terjebak oleh situasi-situasi yang tidak menye-nangkan tersebut. Mereka juga masih mampu menjalankan kehidupan se-cara normal seperti, tetap mudah bergaul dengan lingkungannya dan tidak menarik diri. Remaja-remaja tersebut juga mampu meraih prestasi akademik yang baik di sekolahnya, bahkan melakukan kegiatan-kegiatan ekstra seperti tergabung dalam organisasi di lingkungan pendidikan remaja maupun organisasi sosial. Remaja yang masih bisa berperilaku positif walaupun berada dalam kon-disi keluarga disfungsionalmenun-jukkan adanya suatu kemampuan yang mereka miliki yang disebut resiliensi.

Resiliensi adalah kemampuan atau kapasitas insani yang dimiliki seseorang, kelompok atau masyarakat yang memungkinkan untuk menghadapi, mencegah, me-minimalkan dan bahkan meng-hilangkan dampak-dampak yang merugikan dari kondisi-kondisi yang tidak menyenangkan, atau bahkan merubah kondisi yang menyeng-sarakan menjadi suatu hal yang wajar untuk diatasi (ilmupsikologi. wordpress.com › Ilmu Psikologi). Grotberg (1995) menyatakan bahwa resiliensi adalah kemampuan seseorang untuk menilai, mengatasi, dan meningkatkan diri ataupun mengubah dirinya dari keterpurukan atau kesengsaraan dalam hidup, karena setiap orang itu pasti mengalami kesulitan ataupun sebuah masalah dan tidak ada seseorang yang hidup di dunia tanpa suatu masalah ataupun kesulitan. Hal senada diungkapkan oleh Reivich dan Shatte (1999), bahwa resiliensi adalah kapasitas untuk merespon secara sehat dan produktif ketika menghadapi kesulitan atau trauma, dimana hal itu penting untuk mengelola tekanan hidup sehari-hari.

          Manusia sesungguhnya memi-liki mekanisme adaptasi dalam menghadapi masalah tertentu, karena manusia memiliki resiliensi yaitu kemampuan seseorang untuk bangkit kembali dari tekanan hidup, belajar dan mencari elemen positif dari lingkungannya, untuk membantu kesuksesan proses beradaptasi dengan segala keadaan dan mengem-bangkan semua kemampuan walau berada  dalam kondisi hidup terte-kan, baik secara eksternal maupun internal (Henderson dan Milstein, 2003). Setiap masalah dapat memberikan pengaruh dalam ber-bagai dimensi kehidupan manu-sia, dimensi fisik, perasaan, pikiran dan tindakan. Sebenarnya kebi-ngungan dan kegamangan merupakan respon wajar. Meskipun begitu, bila pikiran demikian tidak juga hilang dan cenderung menetap dalam jangka panjang  nampaknya perlu dilakukan langkah-langkah untuk membantu individu mengambil sikap lebih konstruksif.

Sikap konstruktif merupakan salah satu ciri orang yang mem-punyai kemampuan resilien. Orang yang resilien menurut Wolin dan Wolin (1999) memiliki tujuh karakteristik. Adapun ketujuh karakteristik itu adalah insight, kemandirian, hubungan, inisiatif, kreatifitas, humor, dan moralitas. Insight adalah kemampuan untuk memahami dan memberi arti pada situasi, kemandirian adalah mampu bersikap tegas serta memiliki orientasi yang positif dan optimistik pada masa depan, hubungan adalah kemampuan mengembangkan hu-bungan yang jujur, saling men-dukung dan berkualitas bagi kehidupan, inisiatif adalah memiliki keinginan yang kuat untuk merubah kehidupan menjadi lebih baik, krea-tifitas adalah kemampuan memi-kirkan berbagai pilihan, konsekuensi, dan alternatif dalam menghadapi tantangan hidup sehingga mampu membuat keputusan yang benar, humor adalah kemampuan untuk melihat sisi terang dari kehidupan, menertawakan diri sendiri, dan menemukan kebahagiaan dalam situasi apapun, moralitas adalah kemampuan berperilaku atas dasar hati nurani untuk hidup secara baik dan produktif.

Perbedaan jenis kelamin menentukan proses terbentuknya resiliensi. Beberapa riset menun-jukkan bagaimana jenis kelamin yang berbeda dapat melakukan pe-nyesuaian diri positif. Saat riset dilakukan pada masa kanak-kanak, laki-laki nampaknya lebih terpe-ngaruh oleh adversity (kemalangan) yang terjadi karena konflik pernikahan, perceraian, stress dan lain-lain dibandingkan anak perem-puan. Namun saat obyek riset difokuskan pada remaja, hasilnya bergeser. Remaja perempuan menunjukkan vulnerability (kele-mahan) dibanding remaja pria. Riset Emmy Werner dan Ruth Smith (1982;1993) pada anak-anak Kauai, saat menginjak remaja, jumlah wanita yang mengalami masalah mental meningkat menjadi 2 kali lipat dibanding laki-laki. Perkem-bangan dalam rentang kehidupan (life-span) dan sistem yang melingkupi seseorang berperan dalam pergeseran resiko tersebut. Saat masa kanak-kanak, dimana baik wanita maupun pria kebanyakan berinteraksi dalam keluarga,  anak perempuan lebih mudah untuk mendengarkan (Fagot,1978), sehing-ga kebanyakan anak perempuan lebih terproteksi dari adversity (kemalangan). Namun, saat remaja, kemandirian yang dipelajari saat anak-anak oleh anak laki-laki memberi keuntungan saat mereka banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Karena perempuan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, maka masalah akan muncul saat keluarganya bermasalah. Terkadang, keluarga yang ’over-protective’ pun akan berdampak buruk bagi anak perempuannya saat memasuki usia remaja dan dewasa karena mereka tidak terlatih untuk mengalami kekecewaan atau menye-lesaikan masalah dengan kemam-puan sendiri. Pada remaja laki-laki, akan menghadapi adversity (kema-langan) jika teman sepermainannya bermasalah, karena mereka terbiasa menghabiskan waktu bersama teman-teman bermainnya. Dinamika adversity (kemalangan) dan resiliensi terus berjalan berbeda walaupun tidak selalu berlawanan seiring dengan pertambahan usia antara laki-laki dan perempuan (Amanda-sani6.multiply.com/.../resiliensi_-_Psikologi_Komunitas).

Keluarga disfungsional juga memberikan dampak bagi remaja putri, menurut Hethagton (dalam santrock 1996 : 2000) remaja putri yang tidak memiliki ayah akan ber-prilaku dengan salah satu cara yang ekstrim terhadap laki-laki, remaja putri sangat menarik diri, pasif, dan minder. Kemungkinan yang kedua adalah, remaja putri terlalu aktif, agresif, dan genit. Jadi keluarga disfungsionaljuga sangat berpe-ngaruh pada perkembangan sosial remaja karena dari keluarga remaja menampilkan cara bergaul dengan teman dan masyarakat.

Hipotesis yang akan diuji kebenarannya pada penelitian ini yaitu ada perbedaan status resiliensi pada remaja ditinjau dari jenis kelamin, dengan asumsi remaja laki-laki akan memiliki kemampuan resiliensi lebih baik daripada remaja perempuan.

 

 

 

Metode Penelitian                 

Subyek penelitian yang dijadikan responden dalam penelitian ini adalah remaja di Surabaya dengan jumlah 60 orang yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut : a) Remaja usia 13-21 tahun  dan belum menikah, b) Jenis kelamin laki-laki atau perempuan, c) Status pelajar SLTP, SMU, atau mahasiswa tahap awal, d) yang orang tuanya bercerai.

Untuk menganalisa data yang diperoleh digunakan teknik yaitu dengan menggunakan t-Test, yang bertujuan untuk mengukur perbedaan tinggi rendahnya kemampuan resiliensi pada remaja putra dan remaja putri yang hidup dalam keluarga disfungsional.

 

Hasil Penelitian

Penelitian ini bertujuan  mengetahui perbedaan resiliensi pada remaja dalam keluarga disfungsional ditinjau dari jenis kelamin. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan resiliensi antara remaja laki-laki dan perempuan (tidak signifikan).

Pada ubahan Y (resiliensi) pada kelompok A1 (laki-laki) antara Rerata Hipotesis dengan Rerata Empiris diperoleh hasil uji Z = 3,252 pada taraf signifikansi (p) = 0,003 p < 0,05 sehingga dapat diartikan signifikan. Hal ini berarti bahwa antara Rerata Hipotesis dengan Rerata Empiris pada variabel tersebut terdapat perbedaan signifikan, Rerata Hipotesis (75,00) secara statistik lebih rendah jika dibandingkan dengan Rerata Empiris (83,900), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa resiliensi kelom-pok ini berada pada kategori tinggi. Pada ubahan Y resiliensi, pada kelompok A2 ( perempuan) antara Rerata Hipotesis dengan Rerata Empiris diperoleh hasil Uji Z = 5,932 pada taraf signifikansi (p) = 0,000 p < 0,01 sehingga dapat diartikan signifikan. Hal ini berarti bahwa antara Rerata Hipotesis dengan Rerata Empiris pada variabel tersebut terdapat perbedaan yang signifikan, Rerata Hipotesis (75,00) secara statistik lebih rendah jika dibandingkan dengan Rerata Hipotesis (888,767), dengan demikian dapat disimpulkan bahwa resiliensi kelompok ini berada kategori tinggi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis tidak terbukti yaitu remaja laki-laki memiliki kemam-puan resiliensi lebih baik daripada remaja perempuan.

 

Pembahasan

Hasil ini menunjukkan bahwa remaja perempuan memiliki kemam-puan resiliensi yang sama besar dengan remaja laki-laki. Hal ini bisa disebabkan karena beberapa faktor salah satunya yaitu adanya peru-bahan peran gender. Menurut Kail (2012) bahwa perubahan peran gender dari tahun ke tahun semakin berubah. Perubahan ini didasari oleh dimensi independen, dimensi inde-penden ini melahirkan istilah androgini. Pada banyak pemahaman para ahli yang disarikan oleh Kail (2012) berpendapat bahwa anak perempuan lebih diuntungkan daripada anak laki-laki dalam penggunaan istilah androgini ini. Anak perempuan diperbolehkan ber-ekspresi dan mengerjakan pekerjaan anak laki-laki. Demikian sebaliknya, anak laki-laki dapat mengerjakan pekerjaan yang dilakukan oleh anak perempuan.

Anak perempuan lebih fleksibel dalam menanggapi adanya stereotip tentang peran gender. Hal ini disebabkan karena anak perempuan lebih tertarik pada stereotip anak laki-laki. Stereotip anak laki-laki memiliki banyak status sosial dan penghargaan sosial (Ruble, Martin & Berenbaum, 2006; Ruble, Taylor, Cyphers, Greulich, Lurye & Shrout, 2007). Perubahan peran gender ini juga disebabkan karena pendidikan dan status sosial orang tua (Kail, 2012), mendapatkan pendidikan yang lebih baik membuat anak menjadi lebih terbuka akan peran lintas gender.

Faktor lainnya adalah bahwa anak perempuan cenderung lebih menuntut dan lebih emosional dibandingkan anak laki-laki. Karena tuntutan dan perasaan emosional inilah yang menyebabkan anak perempuan lebih mempersepsi positif situasi yang ada di sekitarnya (Norlander, Erixon & Archer (2000). Sifat menuntut pada perempuan akan membuat mereka menjadi proaktif saat mereka ditimpa atau mengalami situasi-situasi yang tidak menye-nangkan dan bisa jadi mereka melihat situasi-situasi tersebut sebagai rangkaian tantangan yang harus mereka lewati, dimana hal itu sesuai dengan salah satu karakter individu yang resilien yaitu inisatif.

Salah satu pendapat Gunarsa (Purwanti, 2002) mengenai pemba-gian jenis kelamin menyebutkan bahwa dari segi sosiologi perempuan lebih lembut, sabar, dan tabah dalam menghadapi kesukaran hidup serta mudah menghayati perasaan orang lain. Sabar dan ketabahan membuat perempuan menjadi kuat dalam menahan diri dari perilaku-perilaku yang bisa merusak dirinya saat mereka berada dalam situasi sulit.

Teknik pengasuhan orang tua juga memiliki pengaruh yang besar terhadap kecakapan sosial remaja, Diana Baumrind (John W. Santrock, Perkembangan Remaja Edisi Keenam) mengembangkan konsep penting mengenai pengasuhan autoritatif yang terkait dengan perilaku remaja yang terampil secara sosial. Pengasuhan autoritatif (authoritative parenting) mendorong remaja untuk bebas tetapi tetap memberikan batasan dan mengen-dalikan tindakan-tindakan mereka. Komunikasi verbal timbal balik bisa berlangsung dengan bebas, dan orang tua bersikap hangat dan bersifat membesarkan hati remaja. Penga-suhan autoritatif berkaitan dengan perilaku sosial remaja yang kompeten.

Persahabatan termasuk ele-men penting dalam meningkatkan kemampuan resiliensi pada remaja, karena selain dari keluarga remaja bisa mendapatkan atau memenuhi kebutuhannya melalui teman sebaya. Persahabatan memiliki berbagai fungsi salah satunya adalah du-kungan ego, yaitu persahabatan menyediakan harapan atas dukungan, dorongan dan umpan balik yang dapat membantu remaja untuk mempertahankan kesan atas dirinya sebagai individu yang mampu, menarik dan berharga (John W. Santrock, Perkembangan Remaja Edisi Keenam).

Kesetaraan hak untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya antara laki-laki dan perem-puan saat ini juga mempengaruhi tingginya tingkat resiliensi pada remaja. Orang yang mempunyai pengalaman pendidikan yang lebih banyak atau lebih tinggi akan mempunyai ingatan dan perasaan yang lebih luas, lebih fleksibel, serta lebih terbuka terhadap pembaharuan (Siti Rahayu dalam Damelawati, 1994).

Kesimpulan Dan Saran

 

Berdasarkan hasil analisis data dengan teknik korelasi Product moment dinyatakan tidak signifikan atau tidak ada perbedaan resiliensi antara laki – laki dan perempuan. Resiliensi kelompok laki – laki pada kategori tinggi serta resiliensi kelompok perempuan ini juga pada kategori tinggi. Ini berarti hipotesis yang menyatakan bahwa resiliensi pada laki – laki lebih tinggi dari pada resiliensi pada perempuan ditolak.

Disarankan agar remaja dapat mempertahankan perilaku resiliensi agar mampu bertahan dan juga bangkit dari situasi – situasi yang menekan dengan banyak melakukan kegiatan-kegiatan positif bersama teman atau berkelompok seperti mengikuti kegiatan ekstra di sekolah atau tergabung dalam organisasi sekolah dan lainnya.

Selain itu orang tua tetap memberikan perhatian serta dukungan penuh, bersikap terbuka dengan menjalin komunikasi yang baik sehingga seorang remaja akan mampu menghadapi kondisi – kondisi  yang kurang menyenangkan.

Bagi peneliti lain apabila ingin melanjutkan penelitian dengan topik yang sama, hendaknya dapat menggunakan variabel lain yang kemungkinan  menunjukkan perbe-daan seperti konsep diri, self esteem, penerimaan diri dan lain – lain.

 

Daftar Pustaka

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI. Jakarta: PT. Rineka Cipta

Batasan-Usia-Remaja. Diunduh dari www.scribd.com/doc/15261731/7/

Efek Keluarga Broken Home Terhadap Perkembangan Anak. Diunduh dari www.liputankita.com

Islam dan Resiliensi. Diunduh dari almasakbar45.blogspot.com/2011/05/islam--resiliensi.html

Kartono. K. (1990). Batasan Usia Remaja. Diunduh dari belajarpsikologi.com/batasan-usia-remaja/

Kartono, K. (2010). Kenakalan Remaja: Patologi Sosial 2. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Lenny. (2009). Gender Dalam Siu Tao. Diunduh dari  http:// indonesia.siutao.com/

Musick, K (2011). Are Both Parents Always Better Than One? Parental Conflict and Young Adult Well-Being. Artikel online.www.asikdeh.com/efek-keluarga-broken-home-terhadap.html. Diunduh tanggal 28 November 2011

Nasaruddin Umar. (2007).  Perspektif Gender dalam Islam dalam Jurnal Pemikiran Islam Parama-dina. Diunduh dari http://paramadina.wordpress.com/

Pengertian Resiliensi « Ilmu Psikologi | Bimbingan Konseling (2009, 10 Desember). Resiliensi. Diunduh dari ilmupsikologi.wordpress. com/tagpengertian-resiliensi/

Perkembangan Psikologis Remaja - Belajar Psikologi (2011). Perkembangan Psikologis Remaja. Diunduh dari belajarpsikologi.com › Psikologi Remaja

Resiliensi Anak « Ilmu Psikologi | Bimbingan Konseling(2009, 10 Desember). Faktor-Faktor Resiliensi. Diunduh dari ilmupsikologi.word-press.com/tag/resiliensi-anak/\

Rumah Belajar Psikologi. Resiliensi. Diunduh dari rumahbelajar-psikologi.com/index.php/tag/resiliensi

Santrock, J. W. (2003).  Adolescence Perkembangan Remaja: Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga

Schoon, I. (2006). Risk and Resilience: Adaptations in Changing Times. Cambridge: Cambridge University Press

Wikipedia. Remaja. Diunduh dari id.wikipedia.org/wiki/Remaja

Willis, S. S. (2010). Remaja dan Masalahnya: Mengupas Berbagai bentuk Kenakalan Remaja, Narkoba, Free Sex, dan Pemecahan. Bandung: Alfabeta

 

 

 

 


Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya