Dilema Pertemanan Mahasiswa: Berjuang Bersama atau Sekedar Konformitas?

Senin,08 Juli 2024 - 21:26:16 WIB
Dibaca: 489 kali

           Menurut Hartaji, 2012 (dikutip dari gramedia.com), mahasiswa adalah individu yang sedang menuntut ilmu atau belajar di salah satu jenis perguruan tinggi, yang dapat berupa akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas. Mahasiswa tidak luput dari interaksi, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang saling terikat dan membutuhkan bantuan orang lain. Lingkungan pertemanan adalah salah satu wadah bagi mahasiswa untuk berekspresi, berinteraksi, dan memberikan dukungan baik itu secara emosional (Sugeng Sejati, et al). Lingkungan pertemanan dapat terbentuk karena adanya kesamaan hobi, penerimaan diri, dan  merasa hubungan tersebut sama-sama menguntungkan (mutualisme). Namun, banyak juga yang  kurang cocok dalam memilih lingkungan teman yang pas atau baik. Tidak jarang juga banyak konflik seperti perbedaan pendapat yang dalam proses pertemanan karena adanya persepsi yang berbeda antara individu. Lalu, bagaimana sikap kita ketika berada pada situasi tersebut? Mari kita simak kasus dibawah ini:

Seorang mahasiswa A ingin merencanakan karirnya setelah lulus di bidang Psikologi Industri karena passion-nya yang ingin menjadi HRD. Namun, circle pertemanannya ingin merencanakan karir di bidang Psikologi Klinis.

Lalu, mahasiswa A memutuskan untuk mengikuti rencana karir circle pertemanannya yaitu di bidang Psikologi Klinis  karena takut kehilangan temannya walaupun bertentangan dengan passion-nya. Akibatnya, mahasiswa A merasa menyesal setelah ia mengikuti rencana circle pertemanannya dari pada mengikuti passion-nya sendiri.

Dari kasus di atas, kita tahu bahwa yang dialami mahasiswa A :

  1. Mahasiswa A mengikuti keputusan circle  pertemanannya dan bahkan mengorbankan passion-nya demi circle pertemanannya. Hal tersebut membuatnya menyesal bahkan kehilangan identitasnya karena terhambat untuk berkembang dalam bidang karirnya.

  2. Mahasiswa A memutuskan untuk mengikuti rencana karir circle pertemanannya yaitu di bidang Psikologi Klinis  karena takut kehilangan temannya walaupun itu bertentangan dengan passion-nya.

 

Penjelasan Teoritis:

Terdapat 2 pandangan teoritis apabila melihat kasus tersebut, yaitu memandang dengan Teori Konformitas dan Teori Hierarki Kebutuhan.

1. Teori Konformitas

           Konformitas adalah perubahan tindakan atau perilaku yang dipengaruhi oleh tekanan dari individu atau kelompok tertentu (Song, 2012). Biasanya, konformitas terjadi pada siswa usia remaja terhadap kelompok teman sebaya. Karena remaja memiliki emosi yang cenderung tidak stabil, mereka sering membuat keputusan yang bertentangan dengan norma-norma yang ada demi diterima dalam kelompok tertentu. Menurut Hurlock (1999) terdapat tiga tingkat konformitas :

a) Developmentally Appropriate Conformity

           Merupakan bentuk penyesuaian yang dilakukan oleh remaja terhadap standar atau aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh kelompok tanpa membuat dirinya kehilangan identitas. Remaja dengan tingkat konformitas yang tepat tidak mengorbankan individualitasnya dalam melakukan tindakan penyesuaian.

b) Lack of Conformity

           Merupakan bentuk ketidakmampuan remaja dalam melakukan penyesuaian baik tingkah laku atau pendapat terhadap standar atau aturan yang telah ditetapkan oleh kelompok, sehingga rentan mengakibatkan penolakan sosial dari kelompok tersebut.

c) Overconformity

           Merupakan konformitas yang berlebihan, yaitu bentuk penyesuaian baik berupa tingkah laku,pemikiran ataupun pendapat terhadap aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh kelompok secara berlebihan sehingga menyebabkan remaja kehilangan identitas.

2. Teori Hierarki Kebutuhan (Kebutuhan akan Kasih Sayang)

           Menurut teori Abraham Maslow, salah satu kebutuhan manusia dalam hierarkinya, yaitu kebutuhan akan kasih sayang. Manusia pada dasarnya membutuhkan cinta dan pengertian kepada manusia lain. Apabila kita melihat dari kasus di atas, Mahasiswa A mungkin membutuhkan rasa cinta dan rasa ingin dimengerti oleh orang-orang disekelilingnya. Sehingga, ia rela untuk menggugurkan keinginan demi mendapatkan rasa cinta dan pengertian dari lingkaran pertemanannya.

           Membangun circle pertemanan yang sehat dan positif membutuhkan usaha dan komitmen. Dengan memahami permasalahan yang dihadapi dan menerapkan solusi yang tepat, agar dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan suportif dengan teman serta menjalani masa perkuliahan dengan lebih bahagia dan produktif.

Sumber: 

Jannah, S. A. M., Panunggal, S. A. P., & Kurniawan, E. D. (2023). “Aspek Hierarki Kebutuhan Tokoh Amanda Dalam Novel A Untuk Amanda Karya Annisa Ihsani”. Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu, 1(6), 126-130.

Rahmayanthi, R. (2017). “Konformitas teman sebaya dalam perspektif multikultural. JOMSIGN”. Journal of Multicultural Studies in Guidance and Counseling (JOMSIGN), 1(1), 71-82.


Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya