Mengenal Hoarding Disorder: Ketika Hobi Mengoleksi Barang Berujung Menjadi Gangguan

Sabtu,30 Maret 2024 - 10:38:36 WIB
Dibaca: 113 kali

 

Hoarding disorder adalah perilaku gemar menyimpan atau bahkan menimbun barang karena anggapan bahwa barang tersebut akan berguna di kemudian hari. Penderita gangguan ini mengalami kesulitan untuk membuang atau berpisah dengan barang-barang tersebut. Seseorang yang menderita hoarding disorder kerap memenuhi tempat tinggal mereka dengan barang-barang tak perlu sehingga membuat kondisi rumah terasa sempit, penuh, dan sesak. Terkadang, hoarding disorder sulit diobati ketika penderitanya tidak menyadari bahwa perilaku ini bermasalah. Kondisi ini kerap dialami oleh para penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif.

Penderita hoarding disorder bukanlah seorang kolektor. Meskipun pengoleksian barang secara ekstensif berpotensi menjadi penimbunan barang, tetapi terdapat perbedaan mencolok antara menimbun dengan mengoleksi. Seorang kolektor cenderung memajang barang-barangnya secara rapi, bersih, dan terorganisir, seperti dalam etalase atau rak. Kolektor mengoleksi barang secara sehat sehingga tidak akan mengganggu pergerakan atau aktivitas di dalam rumah atau tempat tinggal. Sebaliknya, penderita hoarding disorder cenderung menumpuk barang dengan berantakan, tidak terorganisir, dan tidak memiliki arti, sehingga menghambat pergerakan di dalam rumahnya. Penderita gangguan ini tidak hanya menimbun sampah, tetapi ada juga barang-barang berharga yang tidak ditempatkan dengan layak dan/atau tidak dirawat dengan baik.

Menurut DSM-5, gejala-gejala hoarding disorder adalah sebagai berikut:

  • Kesulitan yang persisten dalam membuang atau berpisah dengan harta bendanya, terlepas dari nilai sebenarnya barang tersebut. 

  • Kesulitan ini disebabkan oleh adanya kebutuhan untuk menyimpan barang-barang tersebut dan kesusahan yang berhubungan dengan membuangnya.

  • Kesulitan dalam membuang harta benda yang mengakibatkan penumpukan harta benda yang memadati dan mengacaukan tempat tinggal dan secara substansial mengganggu tujuan penggunaan harta benda tersebut. Jika tempat tinggal menjadi rapi, hal ini hanya disebabkan oleh campur tangan pihak ketiga (misalnya anggota keluarga, petugas kebersihan, pihak berwenang).

  • Penimbunan menyebabkan tekanan atau gangguan yang signifikan secara klinis dalam bidang sosial, pekerjaan, atau bidang fungsi penting lainnya (termasuk menjaga lingkungan yang aman untuk diri sendiri dan orang lain).

  • Penimbunan tersebut tidak disebabkan oleh kondisi medis lain (misalnya cedera otak, penyakit serebrovaskular, sindrom Prader-Willi).

  • Penimbunan tidak dapat dijelaskan dengan lebih baik oleh gejala gangguan mental lain (misalnya, obsesi pada gangguan obsesif-kompulsif, penurunan energi pada gangguan depresi mayor, delusi pada skizofrenia atau gangguan psikotik lainnya, defisit kognitif pada gangguan neurokognitif mayor, terbatasnya minat pada gangguan spektrum autisme).

 

Penyebab hoarding disorder belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini, yaitu:

  • Mengalami gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, dan gangguan obsesif kompulsif (OCD)

  • Dibesarkan dalam keluarga yang tidak mengajari cara memilah barang

  • Memiliki keluarga yang juga menderita hoarding disorder

  • Pernah ditinggalkan oleh orang yang dicintai

  • Pernah mengalami kesulitan ekonomi

  • Pernah mengalami kehilangan harta benda akibat kebakaran atau bencana alam

 

Jika ada seseorang di sekitar kita mengalami hoarding disorder, hal-hal berikut ini dapat kita hindari ketika berbincang dengan mereka.

  1. Jangan berkata “mengapa kamu tidak membuangnya saja?”

Tetapi tanyakan, “mengapa benda ini berharga untukmu?” 

Penimbun melekatkan emosi pada suatu barang. Dengan membiarkan mereka berbicara tentang mengapa benda tertentu penting bagi mereka, Anda dapat membantu mereka menyadari bahwa emosi ada dalam ingatan, bukan benda fisik itu sendiri.

  1. Jangan berkata “kamu tidak membutuhkan ini, ini sampah”

Tetapi katakan, “saya menyadari barang ini berharga bagimu, tetapi apakah hal ini akan membantumu merasakan kenyamanan di rumah?”

Akui fakta bahwa beberapa barang di rumah penimbun sebenarnya mungkin berharga, tetapi barang tersebut tidak akan dihargai jika dikuburkan di dalam barang yang tidak diperlukan/kurang berharga.

  1. Jangan berkata “saya akan masuk dan membuang semuanya.”

Sebaliknya, katakan, “Aku akan membantumu berpisah selama kamu merasa nyaman melakukannya.” dan selalu minta izin untuk menyentuh barang milik penimbun.

Mulailah dari hal yang kecil dengan menanyakan apakah ada kategori barang yang ingin mereka simpan dan boleh kita buang. Misalnya, “saya melihat banyak gelas kosong. Apakah kamu mengizinkan saya mengunjungi rumahmu dan membuangnya?”

  1. Jangan berkata “mengapa kamu tidak berhenti mengumpulkan barang/berbelanja/menyimpan barang saja?”

Sebaliknya, ucapkan “apa yang bisa saya bantu?”

Penimbunan hampir selalu tentang kontrol. Seseorang yang menimbun mungkin merasa hidupnya tidak terkendali. Akibatnya, mereka berusaha mengendalikan hidup mereka dengan melindungi harta benda mereka. Penimbunan kompulsif adalah dorongan yang tidak dapat ditolak untuk mengumpulkan barang. Seorang penimbun tidak bisa begitu saja ‘memutar tombol’ dan berhenti menimbun. Perlakukan seorang penimbun sebagaimana kita ingin diperlakukan. Dengan cinta, kebaikan, dan pengertian. Dorong mereka untuk mencari terapi untuk kondisi mereka.

  1. Jangan berkata “bagaimana kamu bisa hidup seperti ini?”

Sebaliknya, katakan, “saya peduli padamu dan mengkhawatirkan kesehatan dan keselamatanmu.”

Diskusikan aspek keselamatan/kesehatan hidup dengan timbunan. Berfokuslah untuk menciptakan ruang aman bagi orang tercinta yang mengalami gangguan penimbunan. Cobalah untuk meyakinkan mereka agar mengizinkan kita membantu mereka merapikan hanya ruang yang diperlukan untuk tidur, memasak, dan mandi.

 

Referensi: 

Alodokter. 14 Maret 2023. Hoarding Disorder. Diakses pada 26 Maret 2024, dari https://www.alodokter.com/hoarding-disorder

American Psychiatric Association. (2013). Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder Edition (DSM-V). Washington: American Psychiatric Publishing.

Mayo Clinic. 26 Januari 2023. Hoarding Disorder. Diakses pada 26 Maret 2024, dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hoarding-disorder/symptoms-causes/syc-20356056

Psychology Today. 5 September 2014. The Psychology Behind Hoarding. Diakses pada 26 Maret 2024, dari https://www.psychologytoday.com/us/blog/hope-for-relationships/201409/the-psychology-behind-hoarding

Uncluttered Simplicity. 18 Mei 2022. How To Help A Hoarder: 5 Things You Should Never Say To A Hoarder. Diakses pada 26 Maret 2024, dari https://unclutteredsimplicity.com/how-to-help-a-hoarder-things-you-should-not-say/


Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya