Narcissistic Personality Disorder: Media Sosial Wadah untuk si "Haus Validasi"?
Minggu,21 Juli 2024 - 19:55:38 WIBDibaca: 1170 kali

Perkembangan media sosial memiliki sisi keuntungan bagi masyarakat, baik untuk berkomunikasi, dan juga untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam segi manapun. Namun, disisi dampak positif tentang media sosial juga tidak terlepas dari dampak negatif bagi masyarakat. Salah satu dampak negatif tersebut ialah dapat memiliki gangguan pada kepribadian seseorang, seperti munculnya perilaku narsistik yang dapat menganggu kesehatan mental seseorang.
Seiring perkembangan media sosial yang semakin pesat seperti Instagram, Facebook, X, WhatsApp, dan lain sebagainya, masyarakat memanfaatkan media sosial sebagai sarana interaksi dan komunikasi dengan efektif, serta digunakan juga untuk menjalin hubungan pertemanan dengan individu lainnya entah dari luar negara maupun antarnegara. Akan tetapi, perkembangan media sosial juga dapat menjadi dampak negatif bagi masyarakat, seperti munculnya perilaku narsistik.
Salah satu gangguan kepribadian yang dikenal sebagai kepribadian narsistik adalah ketika seseorang selalu menginginkan untuk menjadi lebih baik daripada orang lain, kurang berempati, sangat menginginkan dihormati, dan tidak dapat melihat dari sudut pandang orang lain (Mahari, dkk., 2005: 20). Nevid J (2005: 283) menyatakan bahwa kepribadian narsistik adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh self-image yang berlebihan dan keinginan untuk perhatian dan pemujaan. Hal ini dilakukan oleh individu yang memiliki sifat narsis untuk menutupi perasaan hampa mereka. Individu yang mengalami gangguan kepribadian narsistik percaya bahwa mereka unik, ambisius, dan suka mencari popularitas, dan sulit untuk menerima kritik.
The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders Fifth Edition (DSM – V, 2013:669) beberapa karakteristik gangguan kepribadian narsistik dibahas, seperti; (1) memiliki keyakinan yang kuat bahwa dia adalah individu yang penting; (2) menikmati fantasi yang tiada batas; (3) menganggap dirinya sebagai orang yang "Istimewa dan unik"; (4) memiliki keinginan yang berlebihan untuk dihormati, dipuja, dan dihargai; (5) memiliki perasaan bahwa namanya besar dan harus dihormati;(6) agresif terhadap orang lain; (7) tidak memiliki sifat empati;(8) iri terhadap orang lain atau percaya bahwa orang lain iri terhadap dirinya; (9) menunjukkan sikap atau perilaku sombong.
Dalam studinya, Ranni (2011) menemukan bahwa kepribadian narsistik yang lebih kuat dikaitkan dengan perilaku konsumtif yang lebih besar. Selain itu, remaja narsis akan bertindak berlebihan untuk mencari ketakjuban orang lain. Tindakan berlebihan seperti ini dilakukan oleh remaja dengan cara berbeda dengan masyarakat umum. Kent A (Tri Listyawati, 2012: 6) mengatakan bahwa orang yang secara teratur memposting gambar dan update tentang aktivitas sebenarnya mencari komentar atau tanggapan atas apa yang mereka posting. Ini dilakukan untuk meningkatkan harga diri yang rapuh. Individu membutuhkan penilaian positif dari orang lain atas sikap, prestasi, perilaku, dan kehebatan mereka untuk menemukan diri mereka berharga.
Individu yang memiliki akun media sosial diharapkan dapat mengontrol perilakunya agar sesuai dengan norma masyarakat dan menghindari perilaku impulsif. Hal ini disebut dengan istilah kontrol diri. Kemampuan untuk mengatur tingkah laku sendiri dan kemampuan untuk menekan atau menghentikan tingkah laku impulsif dikenal sebagai kontrol diri (Chaplin, 2006: 451).
Menurut Averill (dalam M. Nur Ghufron & Rini Risnawita S., 2014: 29), aspek kontrol diri terdiri dari kontrol kognitif (control cognitive), kontrol perilaku (behavior control), dan kontrol keputusan (decesional control). Gangguan kepribadian narsistik, juga dikenal sebagai gangguan kepribadian narsistik, disebabkan oleh perilaku atau sikap seseorang yang berlebihan menganggap dirinya unik atau unggul, yang menyebabkan fantasi yang berlebihan tentang dirinya sendiri (Suhartanti, 2016). Orang yang mengalami gangguan kepribadian narsistik selalu mengharapkan perhatian dan perhatian yang berlebihan dari orang lain. Mereka juga suka menunjukkan sifat dan perilaku mereka yang luar biasa, dan percaya bahwa sikap dan perilaku mereka hanya dapat dipahami oleh orang-orang tertentu. Akibatnya, mereka menjadi arogan, iri, kurang empati, ingin perhatian, ingin dipuja, takut gagal, dan sensitif terhadap kritikan (Jazilah, 2017).
Referensi:
- Chaplin, James P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi (Terjemahan Kartini Kartono). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
- DSM-5. (2013). The Diagnostic and Statistical Manual Of Mental Disorder Fifth Edition. Washington DC: American Psychiatric Publishing A.J.
- Mahari. et al. (2005). Kiat Mengatasi Gangguan Kepribadian. Yogyakarta:Saujana.
- Nevid,Jeffrey S., Spjereencere A., Rathys, & Beverly Greene. (2005). Psikologi
- abnormasl (edisi kelima). Jakarta : Penerbit Erlangga.
- Ranni MerliSafitri. (2011). Hubungan Antara Kepribadian Narsistik Dengan Perilaku
- Konsumtif Pada Remaja Di Yogyakarta. Jurnal Fakultas Psikologi. Vol. 2 No. 2.Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Diakses dari http://lppm.mercubuanayogya.ac.id/wpcontent/uploads/2014/12/ HUBUNGAN-ANTARAKEPRIBADIAN-NARSISTIK-DENGANPERILAKU-KONSUMTIF-PADAREMAJA-DI-YOGYAKARTA.pdf. Pada tanggal 10 Juli 2024, jam 14:29 WIB.
- TriListyawati. (2012). Narcissistic Personality Disorder Pada Siswa SMA Pengguna
- Jejaring Sosial Dunia Maya Facebook di Kota Yogyakarta. Skripsi. FIP-UNY.
- Suhartanti,L. (2016). Pengaruh kontrol diri terhadap Narcissistic Personality Disorder
- pada pengguna Instagram di SMA N 1 Seyegan. E-Journal Bimbingan dan Konseling, 8(5), 184-195.
- Jazilah, N. (2017). Hubungan Antara Kesepian Dengan Ciri-Ciri Narsistik Pada Pelaku Selfie Di Media Sosial. Naskah Publikasi Prodi Psikologi.
Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya