Ulas intrik Ngopi Gen Z sebagai Pelarian dari Masalah, Cek Bacaan Yuk!

Rabu,25 Januari 2026 - 15:52:22 WIB
Dibaca: 41 kali

Dekan Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, Diah Sofiah, mengungkapkan bahwa konsumsi kafein yang berlebihan serta budaya nongkrong di kafe berpotensi memperparah kecemasan, terutama jika dijadikan sebagai pelarian dari tekanan akademik maupun persoalan kehidupan sehari-hari.

Menurut Diah, kecemasan merupakan kondisi psikologis yang berbeda dengan rasa takut. Rasa takut memiliki objek yang jelas, sementara kecemasan muncul terhadap ancaman yang tidak pasti dan sulit diidentifikasi. Ketidakjelasan inilah yang membuat kecemasan sering dirasakan lebih berat secara emosional.

Dalam kajian psikologi, kecemasan dibedakan menjadi state anxiety dan trait anxiety. State anxiety bersifat situasional dan sementara, muncul pada kondisi tertentu seperti menghadapi ujian atau tekanan pekerjaan. Sementara itu, trait anxiety merupakan kecenderungan kepribadian, di mana individu lebih sering merasa terancam meskipun berada dalam situasi yang relatif aman.

Lebih lanjut, Diah menjelaskan bahwa kecemasan melibatkan tiga aspek utama, yaitu kognitif, fisiologis, dan perilaku. Secara kognitif, individu dipenuhi oleh kekhawatiran berlebihan dan pikiran tentang kemungkinan terburuk. Dari sisi fisiologis, tubuh merespons melalui jantung berdebar, napas menjadi cepat, serta ketegangan otot. Adapun dari aspek perilaku, kecemasan kerap mendorong seseorang untuk menghindari situasi tertentu.

“Penghindaran ini memang dapat memberi rasa lega sementara, tetapi tidak menyelesaikan sumber masalah yang sebenarnya,” jelasnya.

Diah menambahkan bahwa pada tingkat tertentu kecemasan bersifat adaptif karena dapat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan individu. Namun, apabila intensitasnya berlebihan dan berlangsung terus-menerus, kecemasan justru berpotensi mengganggu fungsi akademik, sosial, maupun pekerjaan.

Ia juga menyoroti kebiasaan ngopi dan nongkrong di kafe yang kerap dijadikan mekanisme koping yang kurang tepat. Banyak orang datang ke kafe bukan semata-mata untuk menikmati kopi, tetapi untuk mencari distraksi dan rasa aman sementara dari tekanan yang dihadapi.

Selain itu, Diah mengingatkan bahwa dalam DSM-5 tercatat kondisi caffeine intoxication dan caffeine withdrawal. Konsumsi kafein berlebihan dapat memicu kegelisahan, gangguan tidur, peningkatan detak jantung, serta memperburuk gejala kecemasan.

Melalui penjelasan ini, Diah berharap masyarakat, khususnya mahasiswa, dapat memahami kecemasan secara lebih ilmiah, mengenali pola perilaku yang tidak adaptif, serta mengembangkan strategi koping yang lebih sehat dan efektif dalam menghadapi tuntutan akademik maupun kehidupan sehari-hari.


Untag Surabaya || SIM Akademik Untag Surabaya || Elearning Untag Surabaya